Dear Blogosphere semua . . . .
Apa yang kalian pikirkan kalau mendengar kata Atheism? Tidak bisa dipungkiri lagi kalau di berbagai macam negara termasuk Indonesia sudah banyak orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan (Atheist). Beberapa orang yang saya kenal juga ada yg dari kalangan non-believer, yah saya sih tetep menghargai mereka ya kalau kita bisa menghargai umat antar agama berarti kita juga harus bisa menghargai mereka yang memilih untuk
tidak percaya. Nak kebetulan nih saya nemu atrikel yang membahas masalah hukum atheisme di Indonesia, cek it ot!
==================================================================
Menurut buku “
Ensiklopedi Umum” yang ditulis mantan
Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Prof. Abdul Gafar
Pringgodigdo (hlm. 102), Ateisme atau biasa disebut juga Atheisme
berasal dari bahasa Yunani.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa A berarti tidak ada, dan theos berarti
Tuhan. Ateisme ini diartikan sebagai ajaran yang meyakini bahwa tidak ada wujud
gaib (supernatural). Sehingga, seorang ateis tidak mengakui adanya Tuhan.
Di Indonesia, Pancasila sebagai landasan ideologis negara pada sila pertama
telah menentukan bahwa
Negara Indonesia adalah berlandaskan pada
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Selanjutnya, dalam butir pertama sila pertama Pancasila dinyatakan:
Percaya
dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan
masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Artinya, memang secara ideologi, setiap warga negara Indonesia percaya dan
takwa kepada Tuhan YME dan memeluk suatu agama.
Namun, pada praktiknya memang ditemui adanya warga negara Indonesia yang tidak mempercayai
atau memeluk suatu agama tertentu (ateis).
Dan memang belum ada satu peraturan perundang-undangan yang secara tegas
melarang dan menentukan sanksi bagi seseorang yang menganut ateisme.
Akan tetapi, dengan seseorang menganut ateisme, akan memberikan dampak pada
hak-hak orang tersebut di mata hukum.
Misalnya, kesulitan dalam pengurusan dokumen-dokumen kependudukan seperti Kartu
Tanda Penduduk ataupun Kartu Keluarga yang mengharuskan adanya pencantuman
agama (lihat
Pasal 61 dan 64 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan).
Meskipun ada juga seorang ateis yang kemudian tetap mencantumkan agama tertentu
dalam dokumen kependudukannya, hanya untuk memenuhi persyaratan administratif.
Juga ketika seseorang hendak melangsungkan perkawinan, perkawinan hanya sah
bila dilakukan menurut hukum dari masing-masing agama yang dianutnya (lihat
Pasal
2 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perka.winan dan
penjelasannya). -->> Lebih jauh simak artikel
Bagaimana Menikah Jika Calon Suami Tak Punya Agama?
Jadi, secara hukum, tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara tegas
melarang seseorang menganut paham ateisme. Di sisi lain, konsekuensi hukum dari
paham ateisme yang dianutnya, orang yang bersangkutan boleh jadi tidak dapat
menikmati hak-hak yang pada umumnya bisa dinikmati mereka yang menganut agama
tertentu di Indonesia.
==================================================================
==================================================================
Seorang ateis dilarang menyebarkan ateisme di Indonesia.
Penyebar ajaran ateisme dapat dikenai sanksi pidana
Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang
menyebutkan:
“
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa
dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan
terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang
bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Salah satu kasus dugaan penyebaran paham ateisme yang tercatat adalah seperti
yang dilakukan seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dharmasraya, Alexander Aan (30).
Dikuip dari laman
Komnas HAM, Alexander ditahan atas tuduhan penistaan agama
(Pasal 156 KUHP). Sebelumnya, Alexander mengaku sebagai ateis dalam sebuah akun
Facebook yang diberi nama “Atheis Minang”, dan akun tersebut ternyata
meresahkan masyarakat.
Kapolres Dharmasraya, Komisaris Besar Polisi Chairul Aziz mengatakan bahwa
setelah menginterogasi Alexander, dia tidak melakukan pelanggaran apapun dengan
Alexander menjadi ateis.
==================================================================
==================================================================
Nah, selain atheisme, ada juga yang disebut dengan
agnostisisme. Menurut Ensiklopedi Umum (hlm. 22), “agnostisisme merupakan
bentuk skeptisisme yang berpendapat bahwa akal budi tidak dapat melebihi
pengalaman dan bahwa karena itu ilmu metafisika tidak mempunyai bukti yang
nyata. Kant, seorang agnostisisme berpendapat, bahwa kepercayaan akan
ke-Tuhanan hanya berdasarkan kepercayaan. Istilah itu kerap kali dipakai
berkenaan dengan keragu-raguan tentang adanya Tuhan dan adanya kemungkinan hal
yang kekal. Sikap aliran agnostisisme menentang definisi yang mewujudkan
pengetahuan tanpa bukti.”
Jadi, penganut agnostisisme pada dasarnya meragukan adanya Tuhan. Berbeda
halnya dengan ateis yang benar-benar tidak mempercayai keberadaan Tuhan.
Namun terhadap keduanya, baik penganut ateisme maupun penganut agnostisisme,
pada akhirnya untuk dapat menikmati semua haknya sebagai warga negara harus
menundukkan diri pada suatu agama atau kepercayaan yang diakui di Indonesia.
Meskipun, pada praktiknya penundukkan diri tersebut hanyalah sebagai
penyelundupan hukum yaitu para penganut ateisme atau agnostisisme tidak
benar-benar menganut agama atau kepercayaan yang dicantumkan dalam identitas
kewarganegaraannya (Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, dll.).
Sekian jawaban dari kami, semoga membantu.
==================================================================
Nah sekarang udah tau kan enak-susahnya dan konsekuensinya jadi Atheist di Indonesia. Kalo ditanya apa saya percaya Tuhan? hmmmmmmmmm................ jawab ga ya :p
Sekian....